“Bu…uang jajannya kurang,,besok aku ke sekolah mau pake motor..aku tidak mau lagi naik angkot, aku malu sama temanku kalau naik angkot terus.. Dengan jengkelnya anak itu mengambil uang jajannya dan langsung meninggalkan ibunya..”

Dari potongan cerita di atas mungkin salah satu di antara kita pernah mengalami atau melakukannya kepada orang tua kita. Kita selalu merasa kurang dengan apa yang telah diberikan oleh kedua orang tua kita. Terkadang kita selalu memaksakan kehendak yang di luar kemampuan orang tua kita, jika tidak di penuhi kita akan menghardik, mengancam, dan lain sebagainya.

Mensyukuri atas apa yang telah kita peroleh menjadi hal yang tabu dalam diri kita. Sadarkah kita dengan apa yang ada di sekeliling kita?? Masih banyak orang-orang di luar sana yang nasibnya kurang beruntung dari kita. bandingkan dengan mereka-mereka yang setiap hari harus berjuang melawan kerasnya hidup demi sesuap nasi. Sedangkan kita, mau makan, makanan sudah tersedia di meja makan ataupun tinggal membeli di warung-warung penjual makanan siap saji.

Tapi, bagi mereka yang hidupnya jauh dibawah kita harus berjuang di bawah teriknya matahari, mengais rejeki, di jalanan, di warung-warung, dan di perempatan tak peduli dengan panasnya sinar matahari yang membakar kulit.Pengamen, pengemis, anak jalanan, anak terlantar mungkin itu kata yang tapat bagi mereka, tapi mereka tidak peduli dengan semua itu, buat mereka yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk menyambung nyawa.

Di rumah kita yang mewah, kita tidak kepanasan, merasa nyaman dan mendapat pendidikan, mendapatkan banyak teman pula. Mereka pun ingin mendapatkan pendidikan yang layak seperti kita, tapi uang dari mana?? kalau pun ada sekolah gratis belum tentu yang lainnya gratis. Kalaupun mereka sekolah, bagaimana mereka mencari sesuap nasi. Sungguh beruntungnya kita di bandingkan mereka.

Ketika senja tiba, hari mulai gelap, gelap pula lah harapan mereka. Mereka tau malam ini mereka harus tidur di emperan toko, di kolong langit, bahkan di kolong jembatan. Tanpa peduli apa yang akan terjadi. Dinginnya malam selimut bagi mereka, kardus bekas kasur mereka tanpa bantal dan guling. Sedangkan kita, tidur di atas kasur yang empuk, selimut yang tebal, serta bantal dan guling yang nyaman. Sekali lagi saya harus berkata, Sungguh beruntungya kita di bandingkan mereka.

Miris..melihat mereka menapaki kepahitan hidup, tak ada yang peduli, bahkan menganggapnya jijik.Fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara jelas-jelas tercantum dalam UUD 1945, namun kenyataannya tidak seperti itu, mereka di jadikan mesin pencari uang oleh preman-preman dan pemerintah seolah menutup mata dengan kejadian itu.

Harapanku, marilah kita mensyukuri dengan apa yang telah kita peroleh, hargailah setiap pemberian orang tua kita. Mari kita belajar dengan apa yang ada di sekeliling kita. Semoga kita menjadi orang yang berguna. Dan pemerintah lebih dapat mencerna dan memahami redaksional dari pasal 34 ayat 1 UUD 45 ” Fakir miskin dan anak- anak terlantar di pelihara oleh negara”. Agar mereka mendapat  perlindungan dan kehidupan yang layak sama seperti kita